Donggala
- Puspitakarti Menjadi Pusat Pembibitan Ternak KTI
Palu, 25/07/07
Pusat Pembibitan
Ternak dan Penangkaran Hortikultura (Puspitakarti) Karava Tandau
Desa Sidondo Kecamatan Biromaru, diharapkan dapat menjadi pusat
pembibitan ternak untuk Kawasan Indonesia Timur (KTI) yang memiliki
potensi sangat besar dengan luas lahan 58 hektar. Hal ini
disampaikan Ketua rombongan Komisi IV DPR-RI, Fachri Andi Leluasa,
saat melakukan kunjungan kerja (Kunker) di Kecamatan Biromaru,
Selasa (24/7)
Rombongan
Komisi IV yang berjumlah 14 orang ini, menurut Fachri perlunya
Puspitakarti menjadi pusat pembibitan ternak untuk KTI selain
produksi sapi di Indonesia mengalami penurunan, juga terkait penguncuran
Dana Alokasi Khusus (DAK) yang harus memiliki payung hukum serta
pembibitan ternak harus dilakukan untuk kepentingan nasional.
"Terkait pengembangan peternakan secara nasional, Donggala
harus menjadi perhatian kita (Komisi IV). Dan setelah kita melihat,
sebaiknya tempat peternakan atau pusat pengembangan pertanian
dan peternakan ini lebih dikembangkan lebih jauh lagi dalam rangka
ketersediaan benih sapi khusus untuk KTI. Apakah nanti berbunyi
pusat pengembangan benih sapi KTI atau apalah namanya tempat ini
harus kita kembangkan lebih jauh lagi. Dalam rangka kepentingan
bersama, baik untuk masyarakat Donggala, Sulawesi Tengah, bahkan
untuk KTI. Khususnya daerah Kalimantan," ujar Wakil Ketua
Fraksi Pastai Golkar ini.
Sehingga bantuan DAK
yang diharapkan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak)
Kab. Donggala
sebesar Rp. 10 M, dapat direalisasikan. Mengingat beberapa program
pengembangan pertanian, lanjut Fachri seperti percetakan sawah baru
diluar Pulau Jawa menjadi prioritas utama saat ini, jelasnya.
Lokasi
Puspitakarti Karava Tandau yang berada diketinggian 300 meter
dari permukaan laut (dpl) ini, menurut Kepala Distanak Andi Djuhardi
juga memerlukan sarana air untuk tanaman hortikulktura. Dimana
air yang dapat dimanfaatkan adalah air yang berada di Irigasi
Gumbasa dengan menggunakan metode pompanisasi yang tidak hanya
membutuhkan anggaran untuk pembangunannya tetapi juga izin prinsip
dari Departemen Pekerjaan Umum (PU) mengenai pemanfaatan air irigasi
primer. "Kami juga mengharapkan agar Komisi IV dapat menjembatani
komunikasi ke Departemen PU, mengenai izin penggunaan air irigasi
Gumbasa", ungkap mantan penyuluh pertanian di tahun 70-an
ini.
Karena
menurut Andi jika sistem pompanisasi dapat direalisasikan maka
dapat dimanfaatkan untuk lahan tidur seluas 1800 hektar yang ada
di sekitar Lembah Palu, terangnya. Sementara terkait dengan bantuan
DAK yang diharapkan Distanak, Komisi IV memberi respon positif.
Menurut Fachri pihaknya akan menganggarkan DAK sekitar Rp. 10
M untuk Distanak. "Kita sudah tugas-kan Ketua DPRD Donggala
untuk mengurus DAK. Karena hanya Ketua DPRD yang bisa melakukan
lobi", ujar Fachri setengah bercanda disela-sela diskusi
yang dipandu Andi Djuhardi.(mercusuar,25/7)