Sekretaris Jenderal
Departemen Pertanian kunjungan kerja di Desa Tolongano Kab.
Donggala
Palu, 10/04/07
Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian, Hasanuddin
Ibrahim, melakukan kunjungan kerja ke lokasi kegiatan P4MI di Desa
Tolongano, Kec. Banawa Selatan dan Desa Guntarano, juga melihat
kegiatan pusat pembibitan ternak dan
penangkaran (Puspitakarti)
hortikultura milik Pemda Donggala yang dibina langsung oleh Dinas
Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Donggala di Tandau Desa
Sidondo I, Kecamatan Biromaru. Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.
Kabupaten Donggala merupakan salah satu
dari lima kabupaten lokasi kegiatan P4MI. Selama tahun anggaran
2003/2004 hingga 2006, kegiatan investasi desa di Kabupaten Donggala
telah dilaksanakan pada 130 desa sasaran P4MI. Sementara 109 desa yang
direncanakan akan dilaksanakan pada TA 2007 masih dalah tahap persiapan.
Jenis investasi desa yang telah dilaksanakan meliputi jalan usaha tani
dan jembatan di 108 desa, irigasi sederhana di 27 desa, lantai jemur 1
desa, pasar desa 1 desa, pelatihan petani 94 desa, kajian teknologi
diseminasi dan demplot 115 desa, serta konservasi tanah dan air di 7
desa.
Di Donggala, Sekjen Deptan mengunjungi hamparan demplot usahatani padi
varietas Mekongga di desa Tolongano, Kecamatan Banawa Selatan. Kegiatan
demplot ini merupakan kegiatan terpadu antara BPTP Sulawesi Tengah yang
menyediakan dan memberikan pengawalan teknololgi, dengan Dinas Pertanian
dan Peternakan Donggala, KID dan petani Desa Tolongano. Luas hamparan
seluruhnya sekitar 320 Ha. Hasil ubinan demplot padi sawah varietas
Mekongga mencapai 8 t/ha GKP. Hasil ini lebih tinggi dibandingkan dengan
hasil yang biasa dilakukan oleh petani (rata-rata 4-5 t/ha).
Sekjen melakukan panen raya hasil demplot padi bersama dengan Bupati
Donggala, Ketua dan Wakil Ketua DPRD Donggala, Sekretaris Badan Litbang
Pertanian, serta Gubernur Sulawesi Tengah yang di wakili oleh Kepala
Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Propinsi Sulawesi Tengah juga
disaksikan oleh Kepala Dinas/Badan Lingkup Pemda Donggala, dan petani di
sekitar lokasi. Lokasi ini direncanakan akan dikembangkan sebagai lokasi
penangkaran benih padi yang akan dilakukan kerjasama dengan Balai Benih.
Dalam kesempatan panen raya di Tolongano, Sekjen Deptan juga
menyampaikan beberapa program Pemerintah Pusat melalui Departemen
Pertanian terhadap Pembangunan Pertanian di Indonesia, Departemen
Pertanian telah menetapkan program PANCA YASA untuk upaya peningkatan
petani miskin. Program P4MI telah mencakup 4 dari 5 program Panca Yasa,
sehingga Departemen Pertanian siap membantu dalam penyediaan pembiayaan
melalui Skema SP3. Program SP3 ada upaya penyediaan skim
kredit/pembiayaan yang diberikan oleh Pemerintah ke Petani/Peternak
mulai dari usaha Hulu, Budidaya dan Hilir Subsektor Tanaman Pangan,
Hortikultura, Peternakan dan Perkebunan. ”Skim Pelayanan Pembiayaan
Pertanian di lakukan sebagai upaya Pemerintah untuk mendukung usaha
pertanian menuju kemandirian petani” ujar Sekjen Deptan.
Sekjen juga mengunjungi kegiatan P4MI di Desa Guntarano dimana salah
satu lokasi P4MI yang telah mengembangkan Lembaga Keuangan Mikro dengan
model BMT yaitu Balai Usaha Mandiri Terpadu dan telah memiliki asset
sebesar 43 jt. Lokasi kunjungan juga dilakukan di Pusat Pembibitan
Ternak dan Penangkaran Hortikultura (Puspitakarti) milik Pemda Donggala
yang dibina langsung oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan
Kab. Donggala.
Pada saat kunjungan Sekjen tersebut, Bupati Donggala menguraikan
keberhasilan dan manfaat yang telah dirasakan dengan adanya program
P4MI, dan kekurangan-kekurangan dalam proses pemberdayaan petani yang
memerlukan waktu lama, dan perlunya mengisi kegiatan-kegiatan hasil
investasi desa dengan inovasi teknologi pertanian.
Berdasarkan hasil dan manfaat yang dirasakan maka Pemda Donggala
mengajukan usulan kiranya program P4MI ini bisa diperpanjang. Sekjen
secara langsung menanggapi bahwa Departemen Pertanian akan menyetujui
perpanjangan Program P4MI sampai Tahun 2009. Petani dalam tanya jawab
menyatakan hambatan yang dihadapi adalah permodalan, disamping masalah
teknologi produksi, terutama varietas unggul padi dan entres kakao.
Beberapa anggota kelompok tani kakao sudah mahir dalam sambung samping
dan sambung pucuk. Bahkan beberapa orang dari mereka sudah menjual jasa
sambung samping/pucuk dengan imbalan jasa Rp.5.000,- per pohon.